Minggu, 27 Maret 2016

FENOMENA ANAK MUDA DI INDONESIA


Anak muda Indonesia kini tiadak ayalnya sebuah boneka yang bisa dimainkan sesuka hati, dibisikkan dan dipengaruhi lewat pemikiran pemiliknya. Anak muda yang pada jaman presiden Soekarno terkenal garang dan gagah berani, tidak takut mati membela negeri, kini mungkin hanya sebuah slogan yang kita dengar dari para motivator untuk membangkitkan jati diri yang positif, menggerakkan kehidupan orang-orang yang mendengarkan motivasinya, tidakak pelak semua itu hanya masuk telinga kanan dan bahkan tidak keluar melewati telinga kiri, akan tetapi masuk telinga kanan dan langsung keluar lagi tidak jadi masuk. Apakah gerangan kondisi menyedihkan seperti ini, siapa yang harus disalahkan dan siapa yang harus bertanggung jawab akan hal ini. Baiklah dibawah ini saya akan paparkan sedikit mengenai penyebab dari hilangnya sikap positif dari para anak muda Indonesia.
Sebuah pusat kajian psikologi dan fisiologi di New Zealand memaparkan bahwa lebih dari 60 % kondisi menyedihkan disebabkan oleh media massa yang menyebarkan hal-hal negatif, peperangan, seksualitas, dan pelanggaran tata nilai. Sekarang pun siaran televise banyak menayangkan informasi yang negatif dan nyanyian cabul yang tidak mendukung nilai luhur yang dijunjung tinggi. Hal-hal semacam ini belakangan tersebar semakin luas dalam kehidupan kita hingga mempengaruhi perilaku anak muda. Pengaruh berbahaya ini ikut memperkaya proses pembentukan pikiran negatif stiap orang sehingga menjadi semakin kuaat dan mendalam dibandingkan pemikiran negatif sebelumnya yang belum termasuki oleh pengaruh media massa.
Dalam buku The Aladdin factor, Jack Canfield dan Mark Victor Hansen menulis, “Setap hari manusia menerima lebih dari 6000 pikiran.” Bayangkan! Kegaduhan terjadi pada diri kita. Dalam buku Apa yang Anda Katakan pada Diri Anda, Dr. Shad Helmstetter mengatakan bahwa 80% pikiran bersifat negatif. Hal ini diperkuat oleh penelitian fakultas kedokteran di San Fransisco pada 1986. Selain itu, dalam diri kita ada kritik internal yang membuat  kita merasa kurang dibandingkan dengan orang lain serta ada rasa takut dan tidak aman.
Oleh karena itu, solusi yang dapat diambil sebenarnya sangat banyak dan komprehensif, mengingat selain pikiran negatif Allah mencipakan penyeimbangnya yaitu pikiran positif, Sesungguhnya Allah tidak mengubah kondisi suatu kaum hingga mereka mengubah kondisi yang ada pada diri mereka sendiri (al-Ra’d: 11). Selain itu juga kita harus menentukan pilhan untuk menjadi pribadi yang baik dan bermanfaat bagi orang, melakukan semua hal positif dan mengubah hal negatif menjadi potensi diri yang amat besar, dan yang paling utama adalah bertawakal kepa Allah SWT.

Dr. Ibrahim Elfiky. 2008. Quwwat al-tafkir, Ibrahim Elfiky International Enter Prices Inc. Montrel
Diterjemahkan oleh:

Khalifurrahman Fath & M. Taufik Damas. 2015. Terapi Berpikir Positif. Zaman. Jakarta

Sabtu, 26 Maret 2016

Sabtu, 05 Maret 2016

Rindu
(Siti Jaenab, 05 Maret 2016)


Rindu tak bisa diucapkan 
Tak bisa diungkapkan
Tak ada yang menyampaikan
Lewat pesan
Lewat tulisan
Tidak, itu hanya sebagian
Berdiam dan memikirkan
Melamun dan membayangkan
Namun, kala rindu tak tau tujuan
Harus bagaimana tuk redakan
Perasaan tak begitu ringan
Membisikkan kepada badan
Sungguh terlalu riskan
Rindu...
Kala datang dan pulang
Akan membekas dalam fikiran
Menari dan Berjingkrakkan
Memenuhi semua ruangan 
Tak tahu mengapa
Semuanya begitu dirasakan
Ah, sudahlah
Sampai sekarang
Belum pernah ku temukan
Semua rindu dan jawaban