FENOMENA
ANAK MUDA DI INDONESIA
Anak muda Indonesia
kini tiadak ayalnya sebuah boneka yang bisa dimainkan sesuka hati, dibisikkan
dan dipengaruhi lewat pemikiran pemiliknya. Anak muda yang pada jaman presiden
Soekarno terkenal garang dan gagah berani, tidak takut mati membela negeri,
kini mungkin hanya sebuah slogan yang kita dengar dari para motivator untuk
membangkitkan jati diri yang positif, menggerakkan kehidupan orang-orang yang
mendengarkan motivasinya, tidakak pelak semua itu hanya masuk telinga kanan dan
bahkan tidak keluar melewati telinga kiri, akan tetapi masuk telinga kanan dan
langsung keluar lagi tidak jadi masuk. Apakah gerangan kondisi menyedihkan
seperti ini, siapa yang harus disalahkan dan siapa yang harus bertanggung jawab
akan hal ini. Baiklah dibawah ini saya akan paparkan sedikit mengenai penyebab
dari hilangnya sikap positif dari para anak muda Indonesia.
Sebuah pusat kajian
psikologi dan fisiologi di New Zealand memaparkan bahwa lebih dari 60 % kondisi
menyedihkan disebabkan oleh media massa yang menyebarkan hal-hal negatif,
peperangan, seksualitas, dan pelanggaran tata nilai. Sekarang pun siaran
televise banyak menayangkan informasi yang negatif dan nyanyian cabul yang
tidak mendukung nilai luhur yang dijunjung tinggi. Hal-hal semacam ini
belakangan tersebar semakin luas dalam kehidupan kita hingga mempengaruhi
perilaku anak muda. Pengaruh berbahaya ini ikut memperkaya proses pembentukan pikiran
negatif stiap orang sehingga menjadi semakin kuaat dan mendalam dibandingkan
pemikiran negatif sebelumnya yang belum termasuki oleh pengaruh media massa.
Dalam buku The Aladdin factor, Jack Canfield dan
Mark Victor Hansen menulis, “Setap hari manusia menerima lebih dari 6000
pikiran.” Bayangkan! Kegaduhan terjadi pada diri kita. Dalam buku Apa yang Anda Katakan pada Diri Anda,
Dr. Shad Helmstetter mengatakan bahwa 80% pikiran bersifat negatif. Hal ini
diperkuat oleh penelitian fakultas kedokteran di San Fransisco pada 1986.
Selain itu, dalam diri kita ada kritik internal yang membuat kita merasa kurang dibandingkan dengan orang
lain serta ada rasa takut dan tidak aman.
Oleh karena itu, solusi
yang dapat diambil sebenarnya sangat banyak dan komprehensif, mengingat selain
pikiran negatif Allah mencipakan penyeimbangnya yaitu pikiran positif, Sesungguhnya
Allah tidak mengubah kondisi suatu kaum hingga mereka mengubah kondisi yang ada
pada diri mereka sendiri (al-Ra’d: 11). Selain itu juga kita harus menentukan
pilhan untuk menjadi pribadi yang baik dan bermanfaat bagi orang, melakukan
semua hal positif dan mengubah hal negatif menjadi potensi diri yang amat
besar, dan yang paling utama adalah bertawakal kepa Allah SWT.
Dr. Ibrahim Elfiky. 2008. Quwwat al-tafkir, Ibrahim Elfiky International Enter Prices Inc.
Montrel
Diterjemahkan oleh:
Khalifurrahman Fath & M. Taufik Damas. 2015. Terapi Berpikir Positif. Zaman. Jakarta
